One Village One Company, Mungkinkah??


24 May 2019



Gubernur Jabar Ridwan Kamil baru saja meluncurkan program One Village One Company (OVOC) atau Satu Desa Satu Perusahaan. Berlokasi di Desa Sukalaksana, Samarang, Garut, RK (demikian singkatan nama gubernur-red) meresmikan program tersebut pada Kamis(20/12/2018). Seperti biasa, RK senantiasa optimis dengan kebijakannya. ia menyatakan:” Kamis ini adalah hari bersejarah karena merupakan titik episentrum ketika kesejahteraan Indonesia dibangun dari desa-desa”.

RK berargumen bahwa  Program Desa Juara bertajuk One Village One Company (OVOC) nantinya bisa mengurangi ketimpangan ekonomi desa dan kota yang selama ini menjadi masalah di Jabar. Betapa tidak, kelak akan ada 3000 desa atau sekira dua pertiga desa di Jawa Barat akan memiliki mesin ekonomi berbentuk sebuah perusahan. Dengan mesin itu segenap sumber daya desa bisa produktif menciptakan kemakmuran warga setempat. Benarkah?

From OVOP to OVOC

Secara konsep, sebenarnya OVOC bukan hal yang sama sekali baru. Pada masa Gubernur Ahmad Heryawan sempat diluncurkan program One Village One Product (OVOP). Program nasional yang dihela oleh Kementerian KUKM ini mendorong setiap desa melakukan ekonomisasi produk unggulan sesuai potensi dan karakteristik dari desa masing-masing. Gubernur Aher juga optimis dengan program OVOP kelak mampu mengangkat kesejahteraan warga Jawa Barat yang mayoritas tinggal di desa.

Entah bagaimana, OVOP di Jawa Barat tak begitu bergaung. Kajian internal OVOP mengungkap bahwa pilihan berfokus kepada produk justru menjadi penyumbang terbesar ketidakberhasilan progam ini. Memang, ini program agak ganjil. Paradigma bisnis yang berlaku umum ialah “Temukan atau Ciptakanlah dahulu pasar, memproduksi kemudian.” Yang dilakukan program OVOP justru sebaliknya.

 

“Kami telah membentuk “off- taker forum”, atau forum pembeli, untuk memastikan calon pembeli produk-produk yang dihasilkan di desa,” demikian jelas RK, “setelah ada yang beli, nanti kita bagi ke desa- desa,” ujarnya. Pendek kata, Pemprov Jabar lah yang mencari pasar. Jika pasar sudah ada, Pemprov Jabar akan mencari desa yang tepat untuk memenuhi kebutuhan pasar yang telah dibuka dengan membangun OVOC. Menyimak penjelasan tentang OVOC, nampaknya RK hendak mengembalikan kepada paradigma bisnis yang seharusnya; “Raih pasar dulu baru temukan atau ciptakan produknya.” Pilihan strategi yang cukup dimengerti, mengingat latar belakangnya sebagai arsitek memang bekerja atas dasar “Customer Driven.”

Pilihan mengembangkan OVOC sebenarnya sudah muncul dalam kampanye pasangan RK-UU. Tercatat dalam dialog antara para pengusaha Jawa Barat yang tergabung dalam KADIN Jabar dengan Pasangan RK-UU di El-Royale Panghegar, Bandung (26/4/2018), para pengusaha mengusulkan agar kandidat lebih memperhatikan pemberdayaan ekonomi perdesaan dan pelibatan pengusaha lokal. Dalam kerangka inilah, selain menyodorkan sejumlah gagasan penguatan ekonomi Jawa Barat, RK –UU menyodorkan konsep One Village One Company (OVOC). Dan ketika RK-UU memenangi Pilkada Jabar2018, Konsep OVOP masuk ke dalam program 100 hari pemerintahan mereka.

From Triplehelix to Pentahelix

“Ini yang disebut teori pentahelix, ada pemerintah, swasta, perguruan tinggi, media dan komunitas masyarakat. Teori ini akan kita terus gunakan dalam membangun Jawa Barat,” demikian ungkap RK tentang teori yang melandasi program OVOC.

Sebagai penganut ekonomi kolaboratif, RK memang sukses menerapkan model kolaborasi antarpihak dalam mewujudkan suatu program, sebagaimana didemonstrasikannya ketika memimpin BCCF (Bandung Creative City Forum) maupun ketika menjadi Walikota Bandung. Gelaran peringatan ke-60 Konferensi Asia-Afrika pada 2015 merupakan kisah sukses kolaborasi yang selalu diceritakan RK dalam berbagai kesempatan. Kolaborasi itu sendiri adalah istilah keren bagi istilah kuno gotong royong, tentu dengan pemaknaan dan konteks kekinian.

 

Triplehelix merupakan model kolaborasi yang populer dalam khasanah manajemen tahun 1990-an, yang kemudian diadopsi oleh perancang kebijakan pembangunan ekonomi kreatif Indonesia pada pertengahan tahun 2005-an. Isinya menyatakan bahwa program pembangunan ekonomi kreatif dapat meraih keberhasilannya sebagai buah kolaborasi dari para ABG (Academic-Business -Government). Tak heran bila, dalam berbagai program selalu mengandung unsur ABG, termasuk ketika Pemprov Jabar mengembangkan OVOP. Dalam model ini akademisi dari perguruan tinggi menjadi penyedia ilmu pengetahuan, para pengusaha melakukan ekonomisasi, sementara pemerintah menyiapkan regulasi dan fasilitasi. Sungguh ideal bila kolaborasi bisa terealiasi.

Menyadari ketidaksempurnaan triplehelix, pada 2016 diluncurkan model kolaborasi yang lebih luas lagi, namanya pun lebih seru; Pentahelix. Muncul di lingkungan Kementerian Pariwisata sebagai masukan dari konsultan pemasaran Indonesia, Pentahelix mengandaikan adanya kolaborasi ABGCM. Tak ada hal baru sebenarnya, hanya memasukkan unsur C (Community) dan M (Media) ke dalam Triplehelix. Dalam pembangunan pariwisata, memang kedua unsur ini keterlibatannya sangat vital, bukankah yang harus menikmati manfaat ekonomi dari pariwisata adalah masyarakat setempat (komunitas) dan bagaimana media (utamanya media online saat ini) begitu berpengaruh dalam mempromosikan destinasi wisata? Model kolaborasi Pentahelix inilah yang diadopsi RK dalam mengoperasionalkankan program OVOC.

 

Yang menarik, dalam OVOC RK mencoba menarik unsur A (akademisi) lebih jauh ke tengah Pentahelix. “Kita tantang nanti alumni-alumni, milenial perguruan tinggi untuk mau tinggal di desa, membuat business plan pengembangan desa,” katanya. RK melirik kaum muda lulusan perguruan tinggi untuk merintis diri sebagai entrepreneur dengan menjadi operator OVOC. Sebuah tantangan yang kita tunggu jawabnya.

 

Berpotensi gagal?

Sudah pasti keberhasilan OVOC menjadi harapan dan cita-cita segenap warcga Jawa Barat. Namun tidaklah tabu untuk mencermati potensi sebaliknya. Hal paling mendasar yang perlu dipahami bersama ialah Company (perusahaan) merupakan organisasi bisnis yang sama sekali berbeda dengan organisasi pemerintahan apalagi organisasi kemasyarakatan. Ada tiga pilar yang membuat perusahaan mengada, yakni Market, Profit, dan Culture. Tanpa ketiganya, sebuah perusahaan akan berumur pendek.

Semangat RK untuk mencarikan pasar bagi OVOC sungguh patut diapresiasi. Tapi itu bukan satu-satunya faktor keberhasilan. Inisiatif tersebut juga mengandung kecemasan. Bisakah inisiatif itu sustain, padahal kita tahu Pemerintah bekerja berdasarkan anggaran. Tanpa anggaran tak ada program yang jalan, habis perkara. Belum lagi memastikan keberlanjutan inisiatif tersebut dalam bilangan multiyears. Rezim  masa kini berkuasa lima sampai sepuluh tahun, sementara bisnis harus tumbuh melampaui jumlah itu. Pendek kata, kalau RK berakhir kekuasaannya bagaimana dengan program OVOC?

Profit adalah satu-satunya motif sebuah perusahaan mengada. Jika ada motif yang lain, percayalah itu demi mengakumulasi profit itu sendiri. Persoalannya bagaimana kita bisa meyakinkan orang-orang di desa bahwa sebuah bisnis menguntungkan, sehingga mereka merasa perlu membentuk perusahaan. “Merasa perlu” itu bermakna kesediaan mereka menyisihkan dana untuk modal awal.

RK secara eksplisit menyatakan: “Rencana modal dasar Rp 100 juta, selanjutnya setelah perusahan bergulir, masuklah ke ekonomi yang sebenarnya, selanjutnya perusahaan desa bisa mengembangkan bisnisnya lebih besar lagi,” Maksudnya, modal sebesar itu disediakan oleh Pemerintah. Boleh saja. Tapi percayalah itu bukan bagian dari spirit “merasa perlu” dari orang desa.

Perusahaan hidup karena orang-orang di dalamnya menumbuhkembangkan budaya korporat (Corporate Culture). Sayangnya, ini bukan sesuatu yang instan. Budaya korporat merupakan resultan dari pengalaman orang-orang dalam menjalani bisnis yang menjelma menjadi DNA di dalam tubuh perusahaan.

KADIN sebagai organisasi pengusaha dengan sangat baik mendefinisikan DNA itu ke dalam moto organisasinya yakni: Tabah-Jujur-Setia, dengan simbol sepasang kuda yang tangguh dan kapal layar tengah mengarungi samudera.

Bisakah kolaborasi Pentahelix yang dipraktikkan dapat mewujudkan benih-benih DNA entreprenurship warga desa. Kolaborasi Pentahelix itu merupakan pilinan kerja bersama lima elemen (ABCGM) yang sedemikian rupa sehingga membentuk rantai DNA (Deoxyribo Nucleid Acid) dalam tubuh perusahaan. Dalam khasanah ilmu Biologi, DNA merupakan biomolekul yang menyimpan sandi-sandi dan instruksi genetika setiap mahluk hidup. Instruksi-instruksi genetika inilah yang berperan penting dalam pertumbuhan, perkembangan, dan fungsi organisme atau mahluk hidup.

Kita percaya, Pemprov Jabar di bawah kepemimpinan RK memiliki segalanya untuk menekan serendah mungkin potensi gagal program OVOC. Tantangan yang demikian boleh jadi sudah diantisipasi dengan sangat baik. Semoga saja.***

 

SUMBER : Trenbis